Baca..baca..baca..

Bismillah…

Iqro’, bacalah.. Inilah kata pertama yang disampaikan kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa salam oleh malaikat Jibril saat beliau diangkat menjadi The Last Prophet. Perintah ini lebih lengkapnya “Iqro’ bismi robbikal ladzii kholaq; bacalah, dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan.” (Al-’Alaq: 1)

Membaca. Yah, itulah hobiku zaman dahulu kala. Ketika aku masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak, aku punya buku favorit yang sering kupinjam dari perpustakaan sekolah. Saat SD juga aku sering meminjam buku cerita di perpustakaan sekolah. Duduk di bangku SLTP, kebiasaan ‘nongkrong’ di perpustakaan mulai luntur, tapi aku masih sesekali meminjam buku pada teman-temanku. Sama halnya saat aku SMU. Saat kuliah, kegemaranku akan membaca sedikit demi sedikit terpupuk lagi. Karena lingkungan yang kondusif sehingga akses untuk menyalurkan hobiku itu terbuka luas. Mau beli buku, jalan-jalan aja ke toko buku. Mau pinjam buku, teman-temanku punya koleksi buku ‘bejibun’, hehe.. Kadang juga dapat rejeki nomplok dikadoin buku. Sampe terharu kalau ada yang ngado buku *lebay mode ON. Dan yang paling bisa diandalkan saat ini adalah dengan adanya internet, jadi bisa dengan mudahnya search dan download e-book, hehe *dosa gak sih? ngebajak kecil-kecilan

Sebagian koleksi buku "baru" (baru dapet gratis :) )

Dulu jaman masih kuliah (sok, mentang-mentang baru lulus, hehe) tuntutan pendidikan memaksaku membaca sedemikin rupa buku dari yang ketebalannya small, medium sampe large (ni ngomongin buku atau ukuran pizza yak?), meskipun dengan berat hati. Tapi karena memang butuh, semua dijalani dengan ikhlas (setengah terpaksa ding ^^). Tapi kok sekarang mulai males baca lagi ya? Padahal status selama hampir 3 bulan ini adalah pengacara (pangangguran ga ada acara, hehe).. Please gimme back my reading hobby !!! *mulai error..

Buku adalah jendela dunia. Tapi kalo gak pernah dibaca, bagaimana bisa tau dunia ya? Nonton televisi, isinya infotainment thok (yang denger-denger diharamkan sama NU… hmm… LIKE THIS :P ). Denger radio, lama-lama ketiduran. Buka internet, udah “keracunan” fesbuk, xixixixi… Trus mau tau dunia dari mana ya? Keliling dunia aja kali ya? *ni ngomong mulai ngelantur (efek-efek lama gak nulis gini nih, tulisan ngalor ngidul -.-”)

Last, semangat buat teman-teman yang masih punya hobi membaca!! Pinjemin buku donk.. (hehe, gak modal)

Semarang, penghujung 2009

Mudik…mudiiikk!!

Bismillah..

Penghujung Romadhon, menjadi catatan tersendiri bagi para perantau sepertiku. Waktunya mudik, berkumpul dengan keluarga tercinta. Namun perjalanan mudik tahun ini sepertinya akan cukup berkesan.

Teringat perjalanan mudik tahun lalu. Demi mencapai hari raya di ‘hometown’ tercinta, Soroako, saya harus rela (terpaksa) naik bis antar kota dari Semarang ke Surabaya, seorang diri, bermodalkan ilmu sok tahu dan nekat. Entah mengapa saat itu agen travel langganan saya tidak berani menjamin dapat mengejar penerbangan pertama. Padahal tahun-tahun sebelumnya juga bisa. Aneh. Alhamdulillah, Allah masih memberikan keselamatan kepada saya, meskipun perjuangan saya belum berhenti sampai di situ. Setibanya di Surabaya (saat itu sekitar pukul 00.00 dini hari), saya harus menunggu pesawat ke Makassar yang jadwal take off-nya pukul 06.00. Jadilah saya menunggu dibukanya pintu ruang tunggu seperti anak hilang, sendirian, hanya berteman troli berisi barang-barang. Capek, ngantuk, bosan jadi satu. Beruntung selama coass saya sudah terlatih tidur dengan berbagai posisi. =D

Setelah sekitar 6 jam menunggu, terdengar pengumuman bahwa pesawat yang akan saya tumpangi di’delay’ sampai pukul 14.00. What?? Sementara saya harus mengejar penerbangan terakhir ke Soroako pukul 12.00. Setelah complain sana sini, akhirnya kami dialihkan ke maskapai penerbangan lain. Fyuhh…~,~”.. Jadilah tahun lalu menjadi lebaran terakhirku di kota kelahiran tercinta.

Dan tahun ini, setelah menghabiskan Romadhon di kampung orang, saya kembali akan melaksanakan ritual mudik (halah lebay). Mudik kali ini ‘hanya’ sampai Semarang. Dari kota Slawi, naik kereta api, satu-satunya alat transportasi darat yang belum pernah kunaiki..(udik mode ON). Ya mau gimana lagi, di sulawesi mana ada kereta api yang mau naik turun gunung?? Hehe..

Lagi-lagi dengan modal nekat, saya memberanikan diri untuk menggunakan alat transportasi ini. Kereta ekonomi Kaligung menjadi ’sasaran’ saya. Dan sekarang, saya sedang asyik duduk menikmati perjalanan, di gerbong yang cukup padat penumpang, ada yang berdiri, banyak yang lesehan..hmm…demi mudik orang akan rela menderita, hehe.. Ternyata naik kereta api cukup menyenangkan.

Demikian laporan mudik lebaran 1430 H kali ini.. Tahun depan mudiknya seperti apa ya?? ^^

In the end of the best Romadhon i ever had..

-Kaligung-Transit Pekalongan-

Dan Hidupku Berubah…

Bismillah…

Huaaaa…sudah lama tidak menulis, bahkan menengok blog ini pun tidak. Ke(sok)sibukan telah berhasil membuatku tak dapat berkutik untuk sekedar bermain di dunia maya ini.

As I said before, life is changed. Setiap orang akan memasuki sebuah fase dimana kehidupannya akan berubah menjadi lebih matang. Tak hanya kematangan fisik, tapi juga psikologis.Bayi ke anak, anak menjadi remaja, remaja beranjak dewasa muda, dewasa muda menjadi dewasa, dewasa menjadi lanjut usia, dan pada akhirnya pun kembali kepada Sang Pencipta.

Dan saat ini mungkin saya sedang menempuh fase dari dewasa muda menjadi dewasa (masa sih?? kesannya tua amat yak?? hehe). Fase dimana kematangan proses berfikir dan bertindak saya sedang diuji (halah, lebay…^^). Mencoba menjadi seorang yang lebih mandiri, berpijak di atas kaki sendiri. Being a decision maker. Hmmm…kedengarannya menarik, dan memang sangat menarik dan menyenangkan. Hidup di lingkungan baru, bertemu dengan orang-orang baru, dengan segala macam ciri khasnya masing-masing.

Dimulai pada awal Agustus yang lalu, kami berdua puluh orang menempuh kepaniteraan komprehensif di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Slawi. Selama 8 minggu kami akan menjalani kepaniteraan tersebut. Saat ini separuh jalan telah kami lalui. Dan ternyata pengalaman yang kami dapatkan begitu banyak. Suka dan duka, tangis dan canda tawa, semua bercampur menjadi satu. Beribu pengalaman baru pun kami temui. Dan memang benar kalimat yang menyebutkan bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga. Tak ternilai. Tak terbeli dengan apapun.

Mendapat tugas di Puskesmas Pagiyanten pada 4 minggu pertama bersama seorang teman. Mendapat kepercayaan penuh untuk mengelola pasien dari sang Kepala Puskesmas yang baik hati. Hanya dengan bermodalkan ilmu seadanya yang mulai luntur dimakan waktu dan usia (hehe, lebay).

Dalam 3 jam pertama kami, sudah ada 2 pasien rawat inap baru yang menunggu terapi karena kami ”kabur” dari Puskesmas untuk mencari ATM ke daerah pasar. Pun ATM-nya tidak dapat. Berangkat ke pasar dengan menggunakan andong, transportasi utama di daerah itu, disamping angkot yang hanya satu dua, karena saat itu kami belum mendapat pinjaman motor. Pertama kalinya naik andong seumur hidupku, sepanjang perjalanan yang kulakukan hanyalah tertawa terkekeh-kekeh karena sang kuda dengan tidak berperikehewanannya p**py di depan kami (lol). Saat perjalanan pulang, andongnya menabrak seorang pejalan kaki. Kudanya hampir mengamuk dan andong hampir terguling, tapi Alhamdulillah kami baik-baik saja.
Ternyata Allah saat itu menegur kami karena melalaikan tanggung jawab (ampuni kami Ya Allah…).

Dalam 12 jam kami di sana, pasien bangsal yang tadinya hanya 3 orang menjadi 8 orang. Tak hanya itu, beberapa minggu ke depannya pun bangsal selalu ramai. Padahal dari cerita perawat-perawat sebelumnya, bangsal biasanya sepi. Dari buku catatan rekapan pasien, terbanyak hanya 9, itupun hanya sekali. Sisanya paling tidak 3 atau 5 pasien. Kami bahkan sampai mencetak rekor sampai 16 pasien bangsal. Yah, hitung-hitung belajar dan membantu menambah masukan Puskesmas lah..hehe.. Belum lagi pasien rawat jalan yang mencapai ratusan orang. Sampai puas ”dibatuk-batukin” pasien anak maupun dewasa. Ditambah masalah komunikasi yang agak kurang nyambung karena pasien rata-rata menggunakan bahasa Tegal yang sama sekali asing di telinga saya (fyuuuhhh….). Tapi lagi-lagi, pengalaman yang saya dapat dari sana juga sangat banyak. Menjumpai penyakit-penyakit baru, yang selama ini hanya dapat saya pelajari di textbook atau bahan kuliah. Skrofuloderma, herpes zooster, mastoiditis dengan bezold abscess, morbus hansen, moluskum kontagiosum dan masih banyak lagi (sampai saya sendiri lupa saking banyaknya, yang semuanya pun hanya dapat diobati seadanya dengan obat-obatan standar Puskesmas).

Satu yang menjadi cerita indah selama di Puskesmas adalah karena kami melewati awal Ramadhan kami di sana. Mendapat suasana baru Ramadhan di kampung orang ^^. Sholat tarawih pertama dan terakhir di masjid sana. Jadi teringat hal memalukan yang terjadi ketika seorang jamaah mengajak saya berkenalan, dengan senyum sumringah menjabat tangan saya dan bertanya, ”Ini siapa?”. Saya menjawab ragu ”Mmmm…saya dokter puskesmas sini, Bu”. Setelah itu saya terus dipanggil ”Bu dokter”. (aaaarrrgghhhhhh… tiba-tiba saya menjadi malu sendiri memperkenalkan diri seperti itu, hehe). Namun, saya langsung menyerah dengan kondisi masjid yang sangat tidak kondusif untuk sholat karena banyaknya anak-anak yang menjadikan masjid begitu gaduh. Belum lagi ”keramahan” jamaah yang saat itu setiap selesai sholat 2 rakaat pasti mengajak saya ngobrol sampai ketinggalan imam. Mau dicuekin juga gak enak. Akhirnya hari-hari berikutnya saya memilih untuk sholat tarawih di rumah saja. Sampai beberapa hari kemudian, seorang jamaah yang mengenali saya, menegur saya saat beliau berobat di balai pengobatan Puskesmas dan bertanya ”Kenapa tidak sholat di masjid lagi? Tidak enak ya sholat di sana?”. Saya pun bingung menjawab dan hanya bisa mesam-mesem malu..=”>..

Dan lagi, kami serasa mendapat keluarga baru karena semua perawat Puskesmas bersikap ramah kepada kami, sampai pada saat akan pindah tugas ke rumah sakit, oleh salah seorang perawat yang memang dekat dengan kami, memberi bekal jajanan dan lauk pauk sebanyak satu kardus!! Ia berkata bahwa ia mengkhawatirkan nasib kami selama berpuasa di rumah sakit… Hiks, jadi terharu…. Padahal apa yang sudah kami berikan untuk mereka tidaklah seberapa nilainya… Biarlah Allah yang memberikan kebaikan kepada mereka semua… Saat kami akan meninggalkan puskesmas pun, seolah ada yang menahan kami, motor yang kami gunakan mogok dan harus diperbaiki selama sekitar setengah jam, itu pun oleh perawat sana dan suami perawat yang membekali kami makanan tadi… Hiks, terharu lagi…^^

Dan saat ini, kami baru mengawali 4 minggu kami di rumah sakit. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan kepada kami untuk menjalaninya, dan memberi kesempatan kepada kami untuk mengabdikan diri kami kepada masyarakat Slawi dengan baik. Masih dalam suasana Ramadhan…

Alhamdulillah…

Ketika Harus Memilih

Bismillah…

Hidup ibarat roda yang berputar. Kadang kita menemui jalan bak aspal yang mulus, kadang pula harus melewati jalan setapak penuh kerikil tajam. Kadang kita berada di atas, tak jarang pula berada di bawah. Kadang beruntung mendapat jalan yang lapang seperti jalan tol, namun sering pula bertemu jalan yang sempit, penuh persimpangan dan tanpa penunjuk arah (mmm…yang ini gak ada hubungannya sama roda yak? hehe..).

Berada di jalan yang mulus beraspal hendaknya membuat kita bersyukur namun tetap waspada agar tidak celaka. Jalan yang penuh kerikil tajam melatih kita untuk lebih berhati hati agar tidak terluka. Berada di atas hendaknya membuat kita bersyukur dan tetap mengambil pelajaran dari yang di bawah. Dan berada di bawah hendaknya membuat kita senantiasa bersabar dan berjuang keras untuk dapat sampai ke atas. Jalan yang lapang hendaknya membuat kita menghargai kemudahan yang didapatkan dan jangan terlena. Jalan yang sempit, penuh persimpangan dan tanpa penunjuk arahlah yang akan memberikan kita pelajaran tentang kesabaran, keberanian serta kedewasaan.

Tak jarang Allah memberikan kita cobaan berupa jalan yang penuh persimpangan itu dan kita harus menentukan pilihan. Bukan hal yang mudah untuk memilih. Bahkan jika kita merasa hanya ada satu pilihan pun kadang terasa sulit memilihnya. Hmmm…

Sebuah nasihat bijak berkata :
“Mintalah fatwa pada hatimu dan mintalah fatwa pada jiwamu. Kebaikan adalah apa-apa yang membuat hati dan jiwa merasa tenang, dan dosa adalah apa-apa yang terombang ambing dalam jiwa dan ragu di dalam dada, meskipun orang-orang memberimu fatwa”.

Kadang kita tidak menyadari bahwa hati kecil kita adalah ujung tombak dari segala keputusan yang kita ambil. Ketika hati itu lemah, maka keraguan akan mudah menyelimuti. Namun jika hati kita kuat, segala sesuatunya pasti dapat kita kembalikan kepada Allah, dan senantiasa berbaik sangka terhadap apapun yang terjadi pada kita. Karena Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

Kembali ke masalah pilihan. Ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan yang menurut kita sulit, lihatlah dengan hati nurani kita. Sholat istikharoh salah satu medianya. Tak jarang Allah menunjukkan bahwa pilihan itu baik, dengan menyembunyikan keburukannya. Dan tak jarang pula keburukan pilihan itu ditunjukkan kepada kita, dengan jelas ataupun tersirat. Satu hal yang selalu kujadikan pegangan untuk berprasangka baik kepada Allah terhadap pilihan-pilihan sulit yang kuhadapi adalah bahwa jika sebuah pilihan meninggalkan kita, berarti itu memang bukan yang terbaik untuk kita dan Allah pasti telah menyediakan yang lebih baik daripadanya. Dengan begitu maka tidak akan pernah ada penyesalan jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, karena Allah tahu pasti apa yang kita butuhkan dan Insya Allah akan kita dapatkan dari arah yang kadang tidak disangka-sangka.

Teruntuk seorang sahabat…
Tak mampu menahan kuatnya insting itu…

Nyanyian Senja

Bismillah..

Kala sang surya perlahan beranjak ke peraduan..
Meninggalkan siluet jingga yang menyejukkan pandangan..
Ditemani indahnya debur ombak yang menghantam bebatuan..
Dan semilir angin pantai yang melenakan..

Kini kusampaikan padaMu ya Rabb..
Aku ingin diriku yang dulu..
Setegar batu karang..
Yang tak bergeming meskipun dihempas ribuan ombak..
Tetap kokoh berdiri..tak tergoyahkan..
Aku ingin kembali sekuat batang pepohonan..
Yang takkan terbuai meskipun angin badai melambai..
Tetap mampu menaungi jiwa-jiwa yang haus akan kerindangan..

Dan ketika indahnya siluet itu tergantikan oleh kegelapan malam..
Telah siap sang rembulan dengan senyum syahdunya..
Mengalahkan ribuan cahaya bintang..

Kini kusampaikan padaMu ya Rabb..
Aku ingin kelak menjadi selimut yang menghangatkan ruh-ruh yang kedinginan..
Meskipun ragaku harus kukorbankan menahan kekejaman sang malam..
Aku ingin dapat menjadi pelita yang menerangi setiap sudut hati..
Meski yakin takkan mampu ku menandinginya dengan cahaya cintaMu..

Karena itu ya Rabb..
Izinkan aku menitipkan sebingkai ruang di hati ini kepadaMu..
Karena kuyakin takkan mampu ku menjaganya sendiri..
Entah sampai kapan..

Semarang, 15 Jumadil akhir 1430 H

Ketika Ia menunjukkan duniaNya yang sempurna..