Miss Perfect(ionist)

Ini bukan anugerah sekaliber Miss World atw Miss Universe. Ini adalah sebutanku untuk diriku sendiri. Eits…jangan protes dulu.. Bukan memuji diri sendiri dengan sebutan Miss Perfect (dengan segala embel-embelnya..cantik, pintar, kaya..uhhhh..gak gw banget, hihi), tapi untukku malah sebagai sebuah beban (dengan buntut -ionist-nya).
Yah, akulah Miss Perfectionist..paling tidak tahan dengan hal-hal kecil gak penting (menurut orang lain tapi menurutku itu penting banget). Kadang aku berpikir, apakah aku terlalu berlebihan?

Ke”perfectionist”anku ini bisa muncul kapan saja, di mana saja. Namun paling sering muncul saat ada tugas kelompok. Aku akan selalu meminta tugas di bagian finishing touch alias editor. Habis suka gak tahan kalau laporannya gak rapi..mulai dari indentasi tiap paragrafnya, keteraturannya sampai pada ketepatan memilih kata katanya..*mental sekretaris nih, ckckckck. Kalau dilihat lihat agak kurang kerjaan memang, dan tampaknya seperti tidak mempercayai kemampuan orang lain. Not! That’s not what I mean. Itulah salah satu caraku untuk memaksimalkan potensi yang telah Allah berikan padaku.

Di waktu yang lain, ketika aku sedang mengerjakan tugas translate sebuah textbook berbahasa Inggris. Bukan sebuku sih (gila aja kalo sebuku, bisa tua di transletan saya), tapi hanya 8 halaman buku besar. Melihat kebingunganku (yang berlebihan) saat akan menginterpretasikan sebuah kalimat, seseorang berkata “ya ampun, gak usah serius serius amat lah translate-nya, paling gak dibaca ini.” Saat itu hati kecilku berontak, aku berkata “kalau kita mengerjakan sesuatu, kerjakanlah sungguh sungguh.” Ini memang hal kecil, tapi kalau semua orang yang mentranslate berpikiran seperti itu, apa jadinya translate-an kami? Hanya akan memenuhi gudang dengan tumpukan kertas tak berguna. Padahal yang ditranslate itu textbook yang menjadi sumber ilmu sekian banyak orang. Kalau kita melakukannya sungguh sungguh, orang lain akan mendapat manfaat darinya. Tapi kalau kita mengerjakannya sesuka hati, apalah jadinya jika orang yang membacanya menjadi ‘tersesat’ dan salah langkah dalam mengambil tindakan medik dan membahayakan jiwa orang lain?? Apakah ini berlebihan dan dianggap perfeksionis? Aku juga tidak tahu. Aku menikmatinya, meskipun terkadang jadi kewalahan sendiri. Tapi apalah artinya sebuah pengorbanan kecil untuk sebuah keberhasilan besar nantinya. Jika tidak di dunia, semoga ada pahala yang menanti di akhirat kelak. Amiiiinnn…

Alhamdulillah

One Response

  1. BetUlll.. A millioN % right..
    Kelak jika qt sdh berada di alam baka,hasil translate qt yg benar ax bmanfaat bagi org lain.. (g peDuli mw dijadix krtas pbungkus kaCang ato bux). Yg penting u enjoy it.. Dan ax bmanfaat u qt di hari penghisaBan nanti..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: