Pemilu oh Pemilu

Bismillah…

pks Saya bukan orang pertama yang membahas tentang pesta akbar pemilihan umum pada 9 April yang akan datang nanti. Namun saya hanya akan mencoba menyampaikan apa yang ada dalam pikiran saya tentang pemilu tahun ini. Jujur saya bukanlah orang politik, bahkan sebenarnya saya ini buta sama sekali tentang politik. Di kampus pun saya tidak pernah tertarik untuk menjadi pelaku politik kampus.

Saya tergelitik untuk menulis tentang hal ini setelah kemarin secara “tidak sengaja” saya mengikuti kampanye akbar sebuah partai politik (yang gambarnya sudah saya tampilkan di atas), atas ajakan teman dekat saya. Saya bukanlah kader parpol tersebut. Saya hanyalah seorang simpatisan yang juga merangkap sukarelawan jika diperlukan. Ini adalah kali pertama saya mengikuti kampanye parpol (and I feel absolutely weird there). Sebelumnya saya tidak pernah bersentuhan dengan yang namanya politik. Kecuali saat semester 2 dulu, kami ‘terpaksa’ menjadi PanWasLu demi kelancaran studi kami. Kenangan yang tak terlupakan..

Yang membuat saya sedikit kagum dengan kampanye kemarin adalah banyaknya massa yang mengikuti kampanye tersebut. Sekitar 50 persen lebih sepertinya ikhwan-akhwat kader parpol tersebut. Sedangkan sisanya dari masyarakat biasa yang tampaknya hanya ikut-ikutan meramaikan kampanye itu. Mengapa saya mengatakan mereka ikut-ikutan? Karena sebagian besar di antara mereka baru mengenakan atribut parpol tersebut setelah dibagikan oleh ‘entah siapa’ di lapangan. Mendinglah, daripada saya yang sama sekali tidak mengenakan atribut apapun. Mudah-mudahan pemikiran saya tentang mereka itu salah.

Back to topic. Yah, setelah beberapa sambutan yang disampaikan oleh panitia dan kader parpol, nasyid yang membangkitkan ghiroh (serasa berada di training ROHIS kampus), tibalah saatnya orang tertinggi parpol tersebut menyampaikan orasinya. Tidak banyak yang kuingat dari kata-kata beliau. Di antaranya pesan beliau kepada masyarakat untuk memilih parpol yang bijak, jujur dan bersih. Gak jauh beda lah sama iklan-iklan kampanye parpolnya di televisi. Juga pesan beliau agar masyarakat tidak berpihak pada parpol yang menggunakan money politics. Masa’ rakyat selaku pemegang kedaulatan tertinggi mau ‘dibeli’ dengan hanya 20.000 rupiah? Ada pesan beliau yang membuat saya tersenyum sendiri. Beliau berkata “hendaklah jutaan mahasiswa yang hak pilihnya gugur karena berada di luar daerah asalnya memperjuangkan hak pilih mereka dengan melakukan advokasi”. Saya tertawa sendiri karena hal itulah saya alami saat ini. Hak pilih saya entah di mana. KTP saat ini saya tak punya. Terpaksalah saya menjadi golput. Ckckck..warga negara macam apa saya ini? Hehe..

Yah, terlepas dari itu semua, saya hanya bisa berharap semoga Allah memberi yang terbaik untuk negara ini. Semoga masyarakat juga lebih jeli menilai siapa orang yang dapat dipercaya untuk memimpin mereka ke arah kemajuan, bukan keterpurukan. Dan semoga siapapun yang memenangkan pemilu nantinya, dan kelak menjadi pemimpin masyarakat Indonesia, hendaklah menjadi pemimpin yang adil. Karena pertanggungjawaban seorang pemimpin di akhirat kelak akan sangat berat. Teringat cerita akan kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab, yang sudah sering kita dengar atau baca, bahkan sering juga diceritakan oleh guru-guru kita terdahulu.

Pada suatu malam, khalifah Umar yang ditemani oleh seorang pembantunya yang bernama Aslam melakukan perjalanan ke pelosok-pelosok kampung untuk mengetahui keadaan rakyatnya, sebuah kegiatan yang rutin beliau lakukan. Ditengah malam tersebut, dari kejauhan terdengar suara tangisan anak kecil yang sangat memilukan bagi yang mendengarnya. Demi memastikan suara tangisan tersebut, beliau segera bergegas menuju ke sebuah gubuk reyot yang terletak di pinggir perkampungan tersebut. Ketika khalifah Umar bin Khattab mendekati gubuk tersebut beliau mendapati ada seorang ibu paruh baya yang sedang merebus sesuatu di dalam sebuah tungku, sedangkan disisinya terbaring seorang anak kecil yang menangis tersedu-sedu walaupun matanya terpejam.

Khalifah Umar bin Khattab menanyakan kepada si ibu perihal anaknya yang terus menangis tersebut, lalu si ibu menjawab bahwa si anak menangis karena kelaparan sedangkan si ibu sengaja merebus batu untuk menenangkan hati anaknya. Lalu sang ibu berucap bahwa seharusnya amirul mukminin Umar memperhatikan nasib rakyatnya. Demi mendengar ucapan tersebut, saidina Umar terenyuh karena ada rakyatnya kelaparan dikarenakan kelalaiannya didalam kepemimpinannya. Singkat cerita, khalifah Umar kembali ke rumahnya dan mengambil gandum serta makanan yang lain dari baitul maal dan memikulnya sendiri ke rumah si ibu tadi. Walaupun sebelumnya pembantu beliau Aslam meminta supaya dia saja yang membawa barang-barang tersebut, tetapi khalifah Umar bersikeras bahwa beliau akan membawanya sendiri seraya berkata, “apakah engkau sanggup memikul bebanku di hari akhir nanti?” Sesampainya di gubuk reyot tadi, khalifah Umar langsung menyerahkan semua barang yang beliau bawa ke si ibu paruh baya tersebut.

Subhanallah..

Meskipun zaman sekarang sangat kecil kemungkinannya seorang pemimpin mau dan sempat langsung turun tangan mengurus rakyatnya satu per satu seperti khalifah Umar, minimal ia punya bawahan yang dapat diandalkan untuk “memanjangkan tangan”nya untuk mengurus rakyatnya.

Semoga saja kelak pemimpin terpilih kita dapat menjalankan amanahnya dengan penuh tanggung jawab. Tanggung jawab kepada Allah, masyarakat dan tanggung jawab kepada dirinya sendiri.

Semoga…

Alhamdulillah

4 Responses

  1. rame bgt… pada nnton konser paan kak??

  2. Kebetulan ada GIGI juga waktu itu, makanya rame kali yak? Jadinya konser HNW-GIGI, xixi

  3. Yhan,ntU km yg pake helm pink y? xixixi..
    Mending km Yhan. Anak keDok yg buTa politik. Saya..anak Sospol yg g suka (baca : g tw) politik.. Wkwkwkwkwk..

    • bukan sist, saia tukang potonya, hehe. ini juga sekali seumur hidup dah, gak lagi-lagi…xixi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: